Archive for November, 2006

30
Nov

Mengejar impian

Jumat 1 Desember 2006, pukul 00.38 dinihari

Alkisah seorang anak laki-laki yang sedang menjalani tahun terakhirnya di sebuah SMA. Dia anak laki-laki biasa dengan keinginan yang kuat. Sudah sejak lama dia memiliki sebuah cita-cita yang ingin dicapainya. Dia ingin menjadi pilot.

"Aku ingin mengemudikan F16".

Ucapan yang selalu dia sampaikan setiap dia menceritakan perihal cita-citanya. Lain keinginan dirinya, lain pula keinginan orang tuanya. Orang tuanya sangat menginginkan anak mereka untuk menjadi seorang dokter.
Alhasil, di penghujung tahun mendaftarlah anak ini di AAU (Akademi Angkatan Udara). Bukan tanpa persiapan, anak ini sudah menggembleng fisik, mental dan otaknya untuk mengikuti ujian ini. Karena bukan main-main, diantara angkatan bersenjata lainnya angkatan udara lah yang menuntut siswanya untuk memiliki nilai tertinggi dibanding siswa angkatan bersenjata lainnya baik dari kelautan maupun dari darat.
Hari pengumuman untuk hasil tes di AAU pun tiba. Dengan harap cemas dilihatnya hasil ujian dengan persiapan yang tidak sebentar itu.
Dia tidak diterima.
Hatinya hancur dan sedih. Serasa tidak percaya, cita-cita semenjak kecil harus dikuburnya untuk sementara waktu. Mungkin selamanya. Tapi dia tidak sesial itu, mengapa? Karena selain mendaftar ke AAU , ternyata dia juga mengikuti ujian SPMB dengan pilihan jurusan Ilmu Kedokteran. Dan dia diterima di program pilihannya itu.
Satu tahun berlalu dalam masa pendidikannya di Sekolah Dokter. Ditengah-tengah kesibukkannya  kuliah dan praktikum ternyata anak ini tidak mengubur ambisinya unntuk menjadi seorang pilot. Disela tuntutan kuliah dan praktikum yang bagi mahasiswa kedokteran lainnya terasa cukup kejam, dia meluangkan waktunya untuk kembali mengulang pelajaran SMA dulu dan kembali menggembleng tubuhnya. Semua dia persiapkan untuk mencoba menggapai cita-citanya sekali lagi. Sampai hari pengumuman hasil ujian diumumkan.

Kali ini dia diterima.

Itu tadi adalah sebuah cerita perjuangan seseorang yang pernah jadi senior gw di kedokteran. Dia angkatan 2001 dan meninggalkan Fakultas Kedokteran setelah satu tahun masa kuliah. Tepat saat dia sedang menjalani mata kuliah anatomi. Mata kuliah yang merupakan momok bagi mahasiswa kedokteran karena beratnya perjuangan di mata kuliah ini. Dan itu tidaklah menjadi alasan baginya untuk menyerahkan cita-citanya. Satu kata mutiara yang terbersit di otak gw setiap mengingat cerita ini.

"Gantungkan cita-citamu setinggi langit".

Ya. Gantungkanlah setinggi langit dan gapailah dengan sekuat tenaga. Apapun yang terjadi. Ada orang yang pernah bilang,

"Janganlah kamu menaruh harapan terlalu tinggi, karena kalo kamu jatuh. Itu pasti akan sakit sekali".

Menurut gw itu salah. Bila masih terasa sakit berarti cita-citanya tidak setinggi itu bukan? Karena bila setinggi langit tentunya tidak akan sempat merasakan sakit. Dan tentunya, Kalo sampai jatuh dan sakit pastinya apa yang kamu lakukan itu tanpa persiapan yang matang.

Sebagai perumpamaan, bila kita sedang mengendarai sebuah pesawat tanpa perlengkapan dan pesawat itu terjatuh maka apapun yang terjadi kita pasti mati. Lain halnya bila kita menyiapkan sebuah parasut dan menyelamatkan diri dari bencana. Kita masih bisa menaiki pesawat yang lain dan melanjutkan perjalanan. Intinya jangan cepat menyerah dengan keadaan saat ini. Dengan usaha dan keinginan yang kuat dan tidak lupa doa apa yang kita cita-citakan dapat tercapai. Terus berusaha sekuat tenaga sampai cita-cita tercapai. Mulai dari sekarang!

Bacafoto

30
Nov

Ingat kembali tugas mulia kita..

Kemarin gw ngobrol dengan seorang teman yang sedang stase di bagian anak. Stase dengan tingkat mortalitas (kematian) yang cukup tinggi. Bagian yang tidak ada istirahatnya, selalu sibuk selama 24 jam. Hampir setiap hari ada anak yang tidak kuat dengan penyakitnya dan meninggalkan dunia ini. Di saat yang bersamaan, kembali masuk anak baru ke rumah sakit dengan keluhan penyakit yang berbeda-beda.

Yang menjadi perhatian gw, ada beberapa kejadian yang seolah-olah tidak ditanggapi dengan serius bahkan cenderung bercanda. Ada perbuatan praktisi medis yang membuat maut menjemput si anak dengan lebih cepat. Contoh kecil seperti tidak memperhatikan pengawasan dengan baik sehingga anak tersebut lepas dari pengawasan. Mungkin ditinggal tidur. Mungkin ditinggal mandi. Lepas 5 menit, anak tersebut sudah mati. Yang parah, ada yang dengan sengaja mencoba menghentikan usaha si anak untuk hidup. Kasarnya membunuhnya. Walaupun dengan cara yang sehalus mungkin. Tanpa sepengetahuan orangtuanya tentunya. Dan itu dilakukan tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Tidak habis pikir. Tidak pernahkah terbersit bahwa anak tersebut juga manusia? Manusia yang sama seperti kita. Yang berhak mendapatkan pertolongan ketika dia membutuhkan. Seberapapun capeknya, seberapapun sibuknya. Jangan pernah menjadi alasan untuk menyerah menolongnya. Karena disaat kita membutuhkan pertolongan orang lain. Kita tidak pernah mengharapkan orang lain untuk menyerah saat menolong kita bukan?
Minggu depan gw masuk stase di bagian anak. Jadi junior. Semoga gw ngga seperti itu dan tetap menjalankan tugas tanpa menyerah. Mengutip dari blog temen gw sari yang kurang lebih seperti ini:

"Seorang dokter mungkin sudah ribuan kali menghadapi penyakit, penderitaan dan kematian manusia sehingga itu membuatnya menjadi seperti mesin yang tidak berperasaan. Tapi sadarlah bahwa pasien yang mati itu, yang sakit itu, keluarga yang menderita itu mungkin sedang menjalani pengalaman yang pertama bagi mereka. Setiap perkataan dan perbuatan dokter yang tidak mengindahkan perasaan manusia tentunya akan sangat membekas di hati mereka".

Makanya, mbok yao gunakan perasaan sedikit. Ingatlah tugas awal kita disini. Kita disini untuk membantu orang lain, bukan hanya menjual keahlian kita demi harta semata.

20
Nov

mahasiswa kedokteran dan mahasiswa kesehatan

Sabtu 18 November 2006 pukul 22.04

Saat ini gw sedang menjalani minggu ke-2 dari 4 minggu stase di bagian radiologi. Di stase ini bukan hanya siswa kedokteran yang studi disini tapi juga mahasiswa akademi radiologi (ATRO) dan mahasiswa politeknik kesehatan (Poltekkes). Hari pertama kami masuk bagian ini juga bersamaan dengan mereka. Sama-sama anak baru. Akan tetapi lama kelamaan ada beberapa hal yang mulai menarik perhatian gw akan perbedaan dari mahasiswa kedokteran dan mahasiswa "kesehatan" (gw sebut kesehatan karena sama2 di bidang kesehatan tapi mereka bukan dokter).
Hari pertama orientasi kami duduk di ruang diskusi mendengarkan pengarahan bahwa kami harus belajar cara2 membaca foto mulai dari foto rontgen, usg, ct scan, sampai yang canggih n mahal foto MRI. Sedangkan para mahasiswa kesehatan, dari sepenglihatan gw sih diajarkan cara bekerja menjadi karyawan di bagian itu. Mulai dari alur administrasi pasien di loket-pemeriksaan-pembayaran sampai dengan pengarsipan hasil foto dari mulai dicetak-dimasukkan amplop-diberikan ke dokter untuk dibaca-diantar lagi ke loket pengambilan. Intinya mereka diajarkan untuk bekerja menjadi tenaga bantuan yang menurut gw tidak ada hubungannya sama sekali dengan disiplin ilmu mereka.
Sedangkan kami para dokter muda, dipersilakan untuk belajar radiologi cara2 membaca foto, teknik pembuatan dan hal2 medis lainnya dengan melihat2 hasil foto. Tugas lainnya hanya mengikuti tentiran dan membuat catatan kasus yang pastinya berkaitan erat dengan disiplin ilmu kedokteran. Terkadang, kalo para dokter muda ini lagi bosen membaca foto biasanya ngumpul di ruang mahasiswa untuk istirahat, makan bahkan tidur!
Kadang gw berpikir, bagaimana pandangan mereka ya saat melihat kita. Disaat mereka harus belajar di sela-sela tuntutan tugas untuk bekerja, para dokter muda itu belajar malah semaunya. Sesantai mungkin.
Kalo kata teman gw yuma, antara para mahasiswa kedokteran dengan mahasiswa kesehatan itu ada sebuah gap sosial yang menghambat hubungan di antaranya. Terkadang mereka segan untuk kenal dengan para dokter muda itu. Kalo papasan, paling banter cuman senyum. Jarang yang memulai menegur sapa dan mengajak kenal dengan akrab. Ini tentunya tidak lepas dari realita bahwa para mahasiswa kedokteran itu nantinya akan menjadi seorang dokter yang bisa dibilang memiliki strata paling tinggi di rumah sakit sedangkan mereka paling tinggi hanya bisa menjadi pegawai rumah sakit.
Nah, bicara soal gap sosial itu. Sangat jarang mahasiswa kedokteran yang kenal akrab dengan para mahasiswa kesehatan tersebut, tetapi ada satu pengecualian yaitu ada temen gw yang bernama Yuma. Dia kenal dengan beberapa mahasiswa kesehatan tersebut. Beberapanya bahkan cukup akrab dengan dia. Gw sempet kagum dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hampir semua orang di lingkungan radiologi kenal dengan dia. Hanya dalam waktu 2 minggu! Luar biasa menurut gw. Gw sempet nanya apa rahasianya.
Dia cuma jawab,

"Ya aku ajak kenalan aja. Hai namaku aulia (aulia yuma) nama kamu siapa? Trus kita kenalan deh".
"Sesimpel itu?".
"Ya, sesimpel itu".

Yuma bilang ke gw kalo dia sangat tersentuh dengan kata2 di film The Godfather yang bunyinya

"We never know when we need friends. But I dont mind to offer mine first".

Yup. Kita ngga bakal tau kapan kita bakal butuh orang lain, entah untuk bantuannya ataupun hanya sekedar menemani. Tapi toh tidak ada salahnya bila kita memulainya duluan. Gw sangat tersentuh dengan sikap yuma. Luar biasa. Seperti kembali ke masa kecil dimana kita bisa bermain dengan siapa pun tanpa melihat siapa dan apa latar belakangnya.
Siangnya ada acara halal bihalal di radiologi. Ustadz nya yang merupakan salah satu anggota DPRD di semarang lagi-lagi ngasih tausyiah tentang pentingnya menjalin silaturahmi.

"Barangsiapa yang menjalin silaturahmi dengan sesamanya maka akan dipanjangkan umur dan dilebarkan rezekinya".

Amien. Amien.Alat20milyar_1

alat MRI 20 milyar………

05
Nov

Hari-hari di rumahsakit jiwa

Kamis 1 November 2006

Sebuah percakapan dengan pasien bernama Mr.X yang akan gw pake buat ujian besok pagi

gw   : mas, kenapa tho mas nya dirawat disini?
Mr.X : ngga tau mas, mungkin untuk menyembuhkan wajah saya
gw   : lho? emang wajah mas kenapa? tampaknya baik2 saja tuh
Mr.X : emang mas ga bisa liat apa? wajah saya tuh ancur banget. Gara-garanya dipukul sama ibu saya jadinya wajah saya ancur kaya gini
gw   : emang wajah mas dulu ganteng?
Mr.X : Iya. Ganteng banget. Kaya Shaman Khan.
gw   : siapa tuh? bintang film india ya?
Mr.X : Iya, yang ganteng banget itu loh. Saya mirip dia. Banyak banget yang bilang.
gw   : Emang siapa yang bilang mas ganteng kaya Shaman Kang??
Mr.X : Cewek-cewek di kampung saya lah mas.. Semua nya suka sama saya. soalnya selain ganteng saya juga baik jadi semua cewek di kampung saya suka sama saya.
gw   : semua mas?
Mr.X : Iya semua suka sama saya.
gw   : …… (diam bengong)
Mr.X : Tapi muka saya sekarang ancur…
gw   : Kok bisa tau mas kalo mukanya sekarang ancur? Emang ada yang ngejek mas?
Mr.X : Ngga.. saya sadar muka saya ancur ketika saya ngaca..
gw   : (gubrak..emang selama ini dia ga pernah ngaca??)
Mr.X : dulu ngga kaya gini.. dulu ganteng kaya Shaman Khan..
gw   : ooo….

percakapan tika dengan pasiennya Mr.Y

tika : mas, pernah dengar suara-suara gaib ngga?
Mr.Y : suara gaib tuh apa?
tika : itu loh mas, suara bisikan-bisikan gitu tapi ngga ada orangnya yang ngomong di sekitar mas..
Mr.Y : Oooh itu.. pernah mbak beberapa kali gitu deh
tika : Bener mas?? Yakin?? (Semangat karena berhasil menemukan gejala gangguan psikiatri)
Mr.Y : Iya bener.
tika : kapan kejadiannya mas? Siapa yang ngebisikin?
Mr.Y : Sebelum masuk sini ada teman yang ngebisikin.
tika : Loh? gimana caranya mas?
Mr.Y : Pake itu loh mbak.. henpon.. kan ga ada orangnya disekitar tapi bisa bisik2 di telinga
tika : (sialan..dikerjain orang gila..)

Overall, ko-muda di RSJ cukup menyenangkan.. apalagi banyak pasien yang bisa bikin kita ketawa hehehe… Semoga ujian gw besok suksess amien!!

05
Nov

Back to daily life

31 Oktober 2006 pukul 8.37 waktu kamar uut

Seminggu sudah lebaran terlewati. Silaturahmi dengan keluarga, tetangga, teman dan orang-orang sekitar sudah dilakukan. Jalan-jalan, shopping, kumpul-kumpul, kegiatan penyegaran yang tidak bisa dilakukan di hari biasa juga sudah. Semua terasa sangat singkat. Saatnya kembali ke kesibukan biasa. Isi tenaga, panaskan mesin dan mari kita kembali bekerja keras.

Setelah liburan lebaran, hari-hari gw diisi dengan kesibukan di rumah sakit jiwa. Tepatnya di RSJD (rumah sakit jiwa daerah) dr.Amino Gondohutomo Semarang. Pertamanya sih gw takut. Namanya aja ngadepin orang gangguan jiwa, ntar kalo tiba2 digampar gimana? Kan ga lucu punya pengalaman digampar orang gila. Tapi setelah beberapa lama, gw baru tau kalo ternyata pasien yang berbahaya semuanya diiket atau dikarantina di kamar isolasi. Sisanya sih ga berbahaya, paling kelakuannya aja yang aneh2.
Ketakutan gw yang selanjutnya adalah membedakan pasien yang masih benar2 "terganggu" dengan yang sudah agak sehat. Karena biasanya yang sudah agak sehat itu mudah tersinggung bila kita memperlakukan mereka seperti kita memperlakukan orang gila. Sedangkan untuk pasien yang benar2 masi memiliki gangguan jiwa keberadaan kita bisa lebih diterima dan kita pun bisa mewawancara mereka dengan lebih leluasa. Bahkan cukup banyak pasien yang merasa senang bila diwawancara karena biasanya mereka dikucilkan di tempat asal mereka oleh karena gangguan yang mereka miliki. Dan gw pun juga lebih senang menghadapi pasien yang benar2 mengalami gangguan karena gw merasa gw lebih mudah diterima oleh mereka. Ada sedikit perasaan takut bila mendekati pasien yang agak sehat. Takut menyinggung perasaannya, takut salah ngomong, takut karena mereka pasti cukup sadar untuk menyadari bahwa gw menganggap mereka orang gila.
Hal diatas membuat gw berpikir, perbedaan sikap gw terhadap yang benar-benar sakit dengan yang agak sehat itu merupakan hal yang cukup wajar. Wajar bila kita memiliki perasaan takut akan penolakan. Kita akan lebih leluasa mendekati bayi yang masih kecil dibanding dengan mencoba bercakap-cakap orang dewasa yang tidak kita kenal. Kita juga akan lebih leluasa bergaul dengan  orang yang sepantaran dengan dengan kita dibandingkan dengan yang jauh lebih tua ataupun lebih muda. Hal ini disebabkan karena kita akan lebih memilih yang resiko penolakannya lebih kecil.
Hal itu pula mungkin yang menyebabkan orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi biasanya memiliki teman yang banyak dan pergaulan yang luas. Mereka tidak memiliki hambatan yang berarti dalam menghadapi rasa takut akan penolakan. Mereka dapat mengatasi rasa takut itu dengan cukup baik.
Pada dasarnya manusia itu juga makhluk sosial, semua orang butuh untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Tapi sayangnya terkadang kita terlalu sibuk dengan ketakutan akan rasa penolakan itu sehingga membuat kita cenderung menutup diri dari orang lain. Mekanisme pertahanan ini justru membuat orang lain akan semakin sulit untuk mendekati kita. Akhirnya orang lain pun akan melakukan mekanisme pertahanan yang sama.