Archive for October, 2006

20
Oct

Sedikit kata di hari yang fitri..

Assalamualaikum..

Wahai temanku, saudaraku, oom, tante, pakde, bude..baik yang jauh maupun dekat. Yang udah wisuda ataupun yang masi nulis catatan kuliah. Yang masih ngerjain skripsi atau yang lagi liat2 lowongan kerja. Yang lagi sibuk di kantor atau yang lagi sibuk nyari baju baru. Yang lagi gantiin popok maupun yang lagi nyari calon pasangan hidup. Yang masih berjuang dalam hidup ini, dimanapun kalian berada.

Di akhir bulan Ramadhan ini, menyambut hari raya yang suci, gw mo ngucapin. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon Maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali fitri dan menjadi lebih baik lagi. Dan semoga ini bukanlah Ramadhan kita yang terakhir. Amien.

Dekatkan hati dekatkan jiwa. Tidak hanya dengan Yang Khalik, tetapi juga antara kita semua. Eratkan lagi silaturahmi yang pernah tertinggal. Tetap berkirim kabar, walau hanya dengan senyuman.

Wassalamualaikum..

Salam hangat,

Uut

visit http://uut.antiblog.com

11
Oct

Obrolan seputar cinta…

Selasa 10 Oktober 2006 pukul 5.12 menjelang buka puasa

Siang tadi, di ruang ko-ass, seperti biasa terjadi percakapan ringan di sela-sela kesibukan rumah sakit. Topik kali ini cukup menarik minat teman-teman sehingga cukup banyak yang ikutan nimbrung saat itu. Topik nya tentang cinta. Apa, mengapa dan bagaimana?

Percakapan dimulai ketika seorang teman bernama tika ditanya mengenai definisi cinta. Menurutnya, cinta adalah suatu tingkatan tertinggi dalam sebuah hubungan yang akan bertahan selamanya dimana setiap pasangan harus melewati proses dalam mencapai tingkat hubungan tersebut. Pada saat itu gw tidak sependapat dengannya mengenai cinta akan bertahan selamanya. Hal ini karena gw yakin, cinta pada saat seseorang jatuh cinta dengan cinta pada saat seseorang telah bertahun-tahun menikah pasti akan berbeda sehingga gw merasa definisi tersebut belumlah tepat. Menurut gw cinta akan berubah baik dari segi rasa maupun tindakan sejalan dengan berlalunya waktu. Tidak bisa disamaratakan.
Saat itu teman gw ajeng memberi solusi lain bahwa menurutnya cinta bukanlah sebuah tingkatan dalam sebuah hubungan, cinta bukanlah sebuah benda yang kita tuju dalam sebuah hubungan. Cinta harus dideskripsikan sebagai kata kerja, dalam hal ini seseorang harus selalu melakukan kegiatan "mencintai" untuk menjaga hubungan dengan pasangannya. Jadi, cinta adalah kegiatan saling mencinta agar hubungan tetap langgeng. Menurut gw, walaupun sudah diusahakan dengan kegiatan "mencintai", hubungan sebuah pasangan belum tentu akan bertahan tetap langgeng selamanya. Cinta saja tak cukup menurutku.
Menanggapi itu, onggo mengatakan bahwa cinta tidak akan bertahan pada tahap bergelora seperti pada mulanya tetapi akan cenderung berubah menjadi sebuah perasaan terikat yang lebih tenang antara satu dengan yang lain. Mendengar hal itu, ajeng mencoba memperjelas hal tersebut berdasarkan dari pengetahuan yang didapatnya dari sebuah majalah. Menurutnya cinta merupakan sebuah reaksi kimia di otak kita pada organ yang disebut corpus amygdala, organ yang mengatur emosi pada otak kita. Zat neurotransmitter yang bekerja merangsang organ tersebut adalah serotonin, sebuah zat yang salah satunya terangsang pada saat kita bekerja keras. Mungkin itu sebabnya ada istilah yang disebut dengan "cinta lokasi", cinta di tempat kerja, karena pada saat bekerja zat tersebut diproduksi dengan cukup banyak. Karena itu pula mungkin pada saat kita sedang jatuh cinta kita sanggup untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya berat untuk dilakukan. Pada tahap selanjutnya, ketika hubungan sudah berjalan ke tahap yang lebih tinggi dan dewasa, pekerjaan diambil alih oleh peranan hormon oksitoksin. Hormon yang menimbulkan rasa keterikatan dan diproduksi cukup banyak ketika puting susu dirangsang contohnya saat ibu menyusui bayinya.
Luar biasa, bila cinta dapat dijelaskan secara medis seperti itu maka tidak lah mustahil bila cinta dapat di manipulasi dengan pengaturan kadar zat-zat tersebut dalam tubuh seseorang. Mungkin ngga sih kalo di zaman modern nanti ada obat pelet yang terbuat dari zat-zat penimbul cinta?
Lebih gamblang lagi, ajeng mengatakan bahwa seseorang dapat tertarik pada lawan jenisnya berdasarkan tingkat imunitas pada tubuhnya. Semakin tinggi tingkat imunitas seseorang maka semakin menarik orang tersebut di mata orang lain. Widi menimpali dengan teori Kaplan nya bahwa manusia akan selalu mencari yang lebih baik. Korelasinya dalam hal ini mungkin seseorang secara otomatis mencari lawan jenis yang-dalam hal ini berimunitas-lebih baik dengan harapan agar keturunan yang didapat nanti akan menjadi lebih baik dari dirinya. Karena yang terbaik akan bertahan di dunia ini. Teori evolusi. Lalu darimana seseorang mengetahui imunitas lawan jenisnya? setahu gw, ada zat yang bernama pheromone yang disebarkan melalui aroma tubuh kita ke lingkungan sekitar kita. Zat ini membawa informasi mengenai kode genetik pada tubuh kita sehingga mungkin informasi mengenai imunitas tersebut secara tak sadar telah diinformasikan ke tubuh orang disekitar kita.
Mendengar hal ini, tidakkah kita merasa manusia menjadi makhluk yang sangat primitif? Ego dan harga diri kita kita pasti terusik mendengar ini. Tidak mungkin kan, kita mengatakan bahwa kita mencintai seseorang karena baunya?
Diskusi kami siang itu berjalan menarik sekali hingga tiba waktunya untuk pulang. Di akhir diskusi gw mencoba menarik kesimpulan. Cinta tidak dapat didefinisikan karena bukan lah sesuatu yang konstan. Cinta akan berubah sesuai umur dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Serta yang paling utama adalah, bahwa persepsi tiap orang akan cinta tidaklah sama. Perbedaan persepsi dan pengalaman untuk setiap petualangan cinta membuat cinta semakin kompleks untuk didefinisikan dalam sebuah rangkaian kata atau kalimat. Cinta hanya bisa dirasakan. Tapi dengan semua perbedaan ini tidak menghalangi kita untuk menikmati cinta bukan?
Masih banyak hal-hal yang belum terjawab dalam diskusi ini.

Apakah selingkuh itu cinta?
Cinta, nafsu, posesif, obsesif dan hal-hal yang berhubungan dengannya.
Nafsu dan hubungannya dengan cinta. Cinta karena nafsu atau nafsu karena cinta?
Dimulai dengan nafsu, mungkinkah diakhiri dengan cinta?
dan lain lain. dan lain lain.

hmm…mungkin lain kali ya?? ada yang memberi sumbang pikiran??

11
Oct

Keraton ala rumahsakit

Kamis 28 September 2006.

Sudah hampir dua minggu ini gw ada di stase ilmu penyakit kandungan (ObsGyn). Cukup banyak ilmu yang gw dapat ketika di stase ini terutama saat melihat bantuan persalinan. Sungguh peristiwa yang sangat luar biasa. Tapi bukan itu yang ingin gw bicarain disini. Sesuai dengan judul gw ingin menceritakan tentang pengamatan gw selama 2 minggu di stase ini.
Dimulai dari satu hari sebelum gw masuk stase ObsGyn, terdengar kabar dari teman-teman mengenai aturan tak tertulis selama bertugas di stase ini. Peraturan itu meliputi hal-hal yang menurut gw sih agak-agak gak penting gitu, seperti tidak boleh memakai sepatu kets dan ransel karena tidak sesuai dengan image dokter, tidak boleh berbicara dengan dosen yang sedang berjalan, tidak boleh memasuki ruangan dosen dan berbicara langsung dengannya, dan banyak lainnya. Di stase ini juga menganut sistem kasta, dimana dokter spesialis (supervisor/dosen) di derajat paling atas, dilanjutkan residen (calon dokter spesialis) berurutan dari yang senior sampai junior berdasar tahun masuknya, bidan atau perawat, co-ass (calon dokter), lalu di kasta paling rendah adalah kami, co-muda (co-ass muda).
Salah satu pengalaman unik terjadi ketika salah satu kelompok co-muda mendapat giliran untuk presentasi laporan kasus. Sembari menunggu dosen datang, residen mengatakan pada para presentan agar berdiri ketika dosen masuk dan baru boleh duduk setelah dosen tersebut duduk. Seperti yang mulia hakim di pengadilan saja. Pengalaman selanjutnya adalah pada agenda visite supervisor. Dalam agenda ini, supervisor berkeliling di salah satu bangsal sembari menengoki para pasien  bersama dengan sejumlah residen yang mengikuti di belakangnya. Supervisor menanyakan kabar dari para pasien sembari mengucapkan beberapa nasehat untuk pasien-pasien disitu. Nasehat yang dicatat dengan telitinya oleh para residen sembari mengangguk-angguk tanda setuju. Pemandangan ini membuat gw teringat akan kisah para raja jawa yang sedang turun istana didampingi oleh para patih serta pengawal kerajaan menghampiri rakyatnya untuk mendengarkan keluhan-keluhan mereka. Tidak hanya antara dosen dan kasta di bawahnya, di kalangan residen pun mengenal sistem kasta ini. Residen senior memiliki wewenang lebih terhadap para juniornya, semua tugas dari senior harus dipatuhi dengan baik oleh para junior. Bahkan sampai urusan makan, residen junior sampai menanyakan pada residen senior besok mau disiapkan makanan apa.
Tampaknya budaya jawa kuno yang dulu terkenal dengan sistem kastanya sangat mengakar daging di stase ini. Apabila kita mencoba beranjak menuju perpustakaan yang terdapat di stase ini, kita dapat melihat pemandangan di salah satu dinding yang dipenuhi semua lulusan dokter spesialis dari bagian ini. Tampak foto hitam putih para dosen diikuti semua dokter spesialis berdasarkan tahun kelulusan sampai calon dokter spesialis. Tampak paling atas adalah foto para professor yang menggunakan foto berwarna. Dari letaknya sangat terlihat para professor ini memiliki derajat paling tinggi di stase ini. Bahkan ada satu foto yang memakai latar belakang sang professor mengenakan baju beskap dan batik bercorak keraton jawa. Melihat fenomena ini mungkin lucu juga jika suatu saat nanti gelar yang dimiliki para dokter diidentikkan dengan gelar bangsawan dalam kebudayaan jawa. Seperti contoh Kanjeng Gusti Raja Dosen (K.G.R.D), Kanjeng Gusti Pangeran Supervisor (K.G.P.S), Raden Tumenggung Residen Senior (R.T.R.S), sampai yang terakhir jongos co-ass dan cecunguk co-muda.Coass_rm_1

11
Oct

Belajar untuk menikmati..

Gw pernah baca blog salah satu kakak kelas. Kebetulan dia anak kedokteran. Blog itu sebagian besar menceritakan kesehariannya menjadi co-ass di rumah sakit. Dia menceritakan betapa bahagia dan menyenangkan hari-hari yang dilewatinya ketika berada di rs. Ketika membacanya gw bingung, bahkan sempat berpikir itu hanyalah bualan saja. Gw sudah beberapa minggu ini melewati hari-hari di rumah sakit sebagai co-muda (co-ass muda). Di minggu pertama gw masuk di stase Penyakit Syaraf, dan bayangkan 2 hari pertama gw disana 4 orang meninggal. Dan gw melihat secara jelas proses sakaratul maut dari orang-orang tersebut. Pasien yang kemarinnya masih bisa diajak ngomong dengan baik tiba-tiba hari ini meninggal. Bahkan ada salah satu pasien gw yang baru berumur 21 tahun dan dia terkena penyakit yang membuatnya menjadi buta untuk selamanya dan lumpuh separo badan.
Seperti kita ketahui bersama, rs adalah tempat para orang sakit. Tidak ada suasana ceria dalam rs karena disini adalah tempat para orang sakit. Gw ngga suka. Gw benci suasana rumah sakit. Hal-yang membuat gw dapat bertahan adalah keinginan menimba ilmu serta keberadaan teman-teman disini. Tapi saat itu gw tetap ngga suka suasana kerja disini.
Kini sudah memasuki minggu ke-empat gw berada disini. Sedikit demi sedikit gw mulai belajar untuk betah bekerja disini. Gw mulai melihat suasana-suasana lain di kehidupan rs. Suasana tersebut timbul dari rasa semangat untuk melawan penyakit, serta kebahagian setelah penyakit tersebut dikalahkan. Bagi dari sudut pandang pasien maupun tenaga kesehatan yang bekerja disitu.
Ketika di stase interna, pasien gw adalah seorang kakek berumur 77 tahun yang memiliki penyakit paru menahun. Pada hari itu dia bersiap-siap untuk pulang karena kondisinya yang sudah membaik. Wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun gurat kesedihan, bahkan dia menyambut gw dengan ramah. Dia sudah bisa duduk dan berdiri dari tempat tidur. Dia tampak bugar. Saat ini kita mungkin memperkirakan umur si kakek tidak akan lama. Tapi dari senyum dan tawa si kakek terlukis semangat si kakek untuk memiliki hidup yang berkualitas di sisa-sisa umurnya.
Pengalaman selanjutnya adalah di stase ObsGyn ketika melihat perjuangan keras seorang ibu dan para penolong dalam melahirkan bayinya. Rasa lelah dan sakit terkalahkan oleh kebahagiaan ketika mendekap bayi merah yang tidak berdaya itu.
Gw memang belum lama berada di kehidupan rs. Terlalu cepat bagi gw untuk menilai kesan-kesan kehidupan disini. Tapi yang pasti gw akan belajar untuk menikmatinya karena disinilah tempat gw menimba ilmu dan mengabdikan diri selama 2 tahun kedepan.Obsgyn

the next generation of MD..

11
Oct

Graduation

Kamis, 21 September 2006 malam sekali..

Kemarin aku di wisuda. Bersama-sama dengan 161 wisudawan dari jurusanku dan ribuan wisudawan dari universitasku. Para orang tua yang bangga berkumpul dari berbagai pelosok negeri untuk menyaksikan upacara ini. Tidak hanya orang tua, ada yang membawa kakek neneknya, om dan tante, bahkan tetangga sekitar kampungnya. Sungguh suatu suasana penuh haru dan bahagia bagi semua wisudawan, sudah menyelesaikan studinya yang sudah memeras keringat dan pikiran. Serta tidak lupa menguras harta pula.
Anehnya, saat itu aku tidak begitu tertarik dengan semua kesibukan di hari itu. Aku hampir tidak peduli mengenai semua kesibukan hari itu. Satu-satunya yang membuatku senang adalah aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku.
Upacara berlangsung khidmat. Wisudawan berbaris menuju podium sampai namanya dipanggil. Aku berdiri dan menoleh ke arah kedua orang tuaku. Mereka tersenyum melihatku. "Panji Utomo", namaku dipanggil dan aku maju kedepan sembari mengulurkan tangan bersalaman dengan rektor dan dekan. "Selamat ya Panji", begitu ucap rektor kepadaku. Aku tersenyum. Selanjutnya aku disodori seberkas map biru, bertuliskan "Ijazah". Aku berjalan menuju tempat duduk kembali.
Kupandangi ijazah yang kumiliki, tertempel fotoku yang entah setengah nyengir dan tersenyum. Aku menoleh ke samping dan melihat semua teman-temanku mendapatkan ijazah yang serupa pula. Hanya demi selembar kertas inikah kami semua berjuang selama 4 tahun? Aku berpikir, berapa ribu sarjana yang bakal jadi pengangguran hari ini? Luar biasa. Aku sedikit lega karena sadar pendidikan ku masih akan berlanjut 2 tahun lagi hingga menjadi dokter. Lega dan sedikit miris menyadari bahwa aku terhindar dari status pengangguran karena masa pendidikan ku yang belum selesai.
Sepertinya kita semua harus cepat tersadar dari euforia wisuda. Perjalanan masih panjang, karir pun belum dimulai. Berharaplah kita semua bisa menjadi sarjana yang sebenarnya, dimana arti kata sarjana berarti orang yang terpandang. Sungguh bukan hanya terpandang dari segi ilmunya, tetapi juga akhlaknya.

viva almamaterku, viva undip!!Wisuda

11
Oct

wisata malam??

11 September 2006 pukul 5.00 waktu kamar gw

Hari ini peringatan 5 tahunnya peristiwa WTC. Peristiwa yang menggemparkan hampir setiap orang di seluruh dunia pada saat  kejadiannya.

Gw ingin bercerita tentang kegiatan wisata malam yang biasa temen-temen gw lakuin semasa semester 8. Hampir setiap malam beberapa temen gw memiliki kebiasaan untuk berkumpul. Biasanya kita ngumpul di sebuah kost-an tempat biasa nongkrong (cielah..mtv kali) sekitar jam setengah tujuh-an abis magrib. Tidak banyak yang dilakukan hanya sekedar untuk bertegur sapa dengan teman yang lain dan saling menanyakan kabar. Dan hal ini menjadi kebiasaan yang cukup rutin dilakukan terutama apabila keesokan harinya jadwal kuliah cukup longgar. Setelah bertegur sapa dan saling bertukar kabar biasanya acara dilanjutkan dengan makan bersama. Yang unik, biasanya kegiatan ini tidak hanya makan di sembarang tempat. Tetapi kegiatan ini menjadi wisata kuliner untuk mencoba masakan-masakan unik yang tersebar di seluruh Semarang. Target kami yang utama adalah yang enak dan harus murah terjangkau kantong masing-masing. Tidak jarang ongkos perjalanan lebih banyak daripada ongkos untuk makan itu sendiri.
Selain makan bareng, tidak jarang pula kami melakukan wisata ke tempat-tempat wisata malam di Semarang. Tempat wisata yang cukup seru untuk di datangi pada malam hari, tapi pastinya bukan tempat mesum. Uniknya, semua kegiatan-kegiatan ini hampir tidak pernah direncanakan tetapi bermula dari ide-ide spontan saja. Personil yang ikut pun tidak rutin, karena tergantung siapa yang sedang ikut berkumpul pada mala m itu saja. Karena itu pula tidak jarang harus berimpit-impitan dalam satu mobil karena terbatasnya jumlah mobil yang ada.
Sayang, seiring berjalannya waktu dengan banyaknya teman yang sudah masuk ko-ass kegiatan ini semakin jarang dan hampir tidak pernah dilakukan lagi. BakpauGinyu_1

bistik n bakpau goreng pecinanBistikgoat

<<pasukan ginyu

Tol_tembalangTbt Kampung_laut

ayam bakar tembalang, kampung laut, tol tembalang

Tembalang_rame2_1

widya puraya undip…