18
Feb
06

Hidup di persimpangan jalan

3 Februari 2006

kita pasti pernah ngerasain yang namanya memilih. Toh hidup ini kan serangkaian pilihan. dari yang sederhana seperti milih baju buat ke kampus sampai yang rumit seperti memilih jurusan waktu daftar spmb atau memilih antara cinta dan karier. Kita sendiri merupakan pilihan Tuhan untuk hidup di dunia ini, coba bayangin dari jutaan sperma yang ada kenapa hanya satu sperma yang terpilih masuk ke ovum dan akhirnya jadi manusia seperti kita ini. Kita mati juga merupakan pilihan, mau mati sebagai orang baik atau orang jahat. Ngga ada orang yang ditakdirkan buat jadi orang jahat, kalo iya, mana mungkin Tuhan menciptakan mUut_360alaikat pencatat buat mengarsip pilihan2 hidup yang kita lalui selama di dunia. Dan selama kita memilih, pasti hasilnya kalo ngga bagus ya jelek kan atau kalo ngga ya gabungan antara keduanya dan semua pilihan pasti ada resiko yang harus kita tanggung. Trus yang jadi pertanyaan. Gimana kalo gw ngga mau milih? Karena sepertinya tidak ada pilihan yang sesuai seperti dgn keinginan gw. Mungkin ini yang bisa dibilang hidup di persimpangan jalan, dimana pilihan ada di depan mata tapi ngga tau atau ngga mau tau harus milih yang mana akhirnya cuma diam dan menunggu. Entah apa yang ditunggu, mungkin petunjuk atau pengurangan jumlah pilihan. Masalahnya sampai kapan kita mau nunggu apabila petunjuk itu tidak kunjung datang, apa kita mau menghabiskan hidup yang sebentar hanya dengan menunggu? Kayanya ngga banget deh. Apalagi menunggu untuk sesuatu yang belum jelas. Lebih gila lagi kalo menunggu untuk sesuatu yang ngga mungkin. Semisal dari banyaknya pilihan untuk bekerja keras mencari nafkah ada orang yang lebih memilih untuk menunggu uang datang sendiri tanpa bekerja. Itu kan ngga mungkin, uang ngga turun dari langit bung. Ngga mau belajar tapi mau dapet nilai bagus. Nyontek juga bisa sih (mungkin itu juga salah satu pilihan ya?) tapi ya itu tadi semua pasti ada resiko dan akibatnya. Tapi yang pasti, menunggu dan tidak berbuat apa2 itu tidak akan membuahkan hasil. Kalo ujian aja kita lebih memilih nembak daripada dikosongin kan jawabannya. Kalo dikosongin sudah pasti tentu tidak akan dapat nilai sedangkan dengan nembak masih mungkin tebakan kita benar dan dapat nilai. Begitu juga dengan hidup, kita ngga akan dapat apa2 dengan menunggu. Kita harus merencanakan ke arah mana hidup ini mau dibawa. Bokap gw pernah bilang, agama melarang kita untuk berjudi, apalagi berjudi dengan jalan hidup kita. Karena dengan menunggu tidak melakukan apa2 dan menunggu keberuntungan datang kepada kita itu sama saja dengan dengan berjudi mempertaruhkan hidup. Lebih baik kita tentukan pilihan dan dengan sekuat tenaga kita terus maju mencapai tujuan dari pilihan yang kita buat. Hal terburuk mungkin saja terjadi dari pilihan yang kita buat, tetapi toh kita masih bisa mengambil hikmah dari kesalahan yang dibuat. Kita ngga bisa menunggu keadaan untuk menjadi lebih baik mengikuti keinginan kita. Hal itu ngga akan terjadi, justru kita yang harus mengkondisikan diri kita untuk bisa maju. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang.




1 Response to “Hidup di persimpangan jalan”


  1. 1    Budiaji June 3, 2006 at 9:43 pm

    glek…!
    loe idup bukannya dari judi?
    maksud gue…doorprize…! >P

Leave a Reply